Berita Positif Surabaya dan Sekitarnya

Primary Navigation

Social Navigation

Tantangan dan Peluang Adopsi Teknologi IoT pada Sektor Akvakultur Skala Usaha Mikro

Education

MALANG — Sektor perikanan budidaya darat, khususnya budidaya lele intensif, menuntut presisi tinggi dalam pengelolaan kualitas lingkungan air. Tingginya kepadatan penebaran benih yang tidak diimbangi dengan kontrol kimiawi air secara ketat sering kali berujung pada penurunan kualitas air secara masif. Studi kasus penerapan sistem pemantau kualitas air berbasis Internet of Things (IoT) oleh mahasiswa FTAB Universitas Brawijaya di UMKM Namazu Bites Malang memberikan gambaran komprehensif mengenai bagaimana diferensiasi teknologi mampu meningkatkan ketahanan bisnis UMKM perikanan.

Secara teknis, parameter amonia tak terionisasi dan fluktuasi derajat keasaman (pH) merupakan dua variabel kritis yang sering memicu toksisitas pada organ pernapasan ikan lele. Pada metode tradisional, pembudidaya umumnya baru menyadari penurunan kualitas air ketika ikan menunjukkan gejala klinis, seperti mengapung di permukaan atau penurunan nafsu makan secara drastis. Penanganan pada tahap ini dinilai terlambat karena dampaknya sudah merusak rasio konversi pakan (Feed Conversion Ratio/FCR) dan mengganggu siklus panen.

Inovasi yang dikembangkan oleh Kelompok 52 FTAB UB memotong keterlambatan informasi tersebut. Dengan memasang sensor suhu, pH, amonia, TDS, dan kekeruhan air yang terhubung ke jaringan internet, data kondisi fisik-kimia air dikirimkan secara kontinu ke gawai pengelola. Transparansi data ini memfasilitasi tindakan preventif—seperti sirkulasi air tepat waktu—sebelum konsentrasi amonia menembus ambang batas bahaya.

Meskipun penerapan IoT menawarkan efisiensi tinggi, keberlanjutan adopsi teknologi di tingkat UMKM sangat bergantung pada kemudahan pemeliharaan perangkat (maintenance). Kesadaran inilah yang mendorong tim mahasiswa UB untuk mengintegrasikan modul pelatihan kalibrasi sensor dan perawatan rutin dalam program mereka. Pendekatan holistik ini memastikan bahwa alat IoT tersebut tidak sekadar menjadi artefak teknologi sementara, melainkan menjadi aset produksi yang digunakan secara mandiri oleh pembudidaya.

Dukungan institusional melalui skema Mahasiswa Membangun Mitra (3M) yang berbuah Juara I pada Expo FTAB UB 2026 membuktikan pentingnya peranan universitas dalam merancang rantai pasok teknologi yang inklusif, murah,dan berdampak langsung pada kesejahteraan pelaku ekonomi akar rumput.dan berdampak langsung pada kesejahteraan pelaku ekonomi akar rumput.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *