Kemarau Panjang Picu Kekeringan dan Karhutla, Bromo hingga Kalimantan Dilanda Kebakaran
JAKARTA — Musim kemarau yang melanda sejumlah wilayah Indonesia mulai menunjukkan dampak serius. Kondisi cuaca yang panas dan kering meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), dengan sejumlah titik kebakaran dilaporkan terjadi di kawasan Bromo dan Kawah Ijen, Jawa Timur, hingga sejumlah wilayah di Kalimantan.
Kondisi tersebut menambah kekhawatiran masyarakat yang dalam beberapa waktu terakhir merasakan suhu panas sejak pagi hingga sore hari. Minimnya hujan dan kondisi lahan yang semakin kering membuat api lebih mudah muncul dan menyebar ketika terjadi kebakaran.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut atmosfer kering masih mendominasi sebagian wilayah Indonesia pada pertengahan September 2026. Kondisi ini turut dipengaruhi oleh fenomena El Niño yang berada pada kategori sangat kuat.
BMKG mencatat anomali suhu muka laut di wilayah Niño 3.4 mencapai +2,76 derajat Celsius pada dasarian pertama September 2026. Kondisi tersebut berkontribusi terhadap berkurangnya curah hujan di sejumlah wilayah dan meningkatkan potensi kekeringan serta karhutla.
Bromo Dilanda Kebakaran
Salah satu wilayah yang terdampak kebakaran adalah kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur.
Kebakaran diketahui terjadi sejak 10 September 2026 di kawasan Savana Pengol. Api kemudian bergerak menuju kawasan Gunung Kursi dan meluas hingga Pos Jemplang.
Proses pemadaman menghadapi sejumlah kendala, salah satunya kondisi medan yang terjal dan sulit dijangkau. Angin kencang juga menjadi faktor yang dapat mempercepat pergerakan api.
Kementerian Kehutanan bersama tim gabungan melakukan penanganan melalui pemadaman darat, pembasahan area, serta pemantauan dari udara. Pemerintah juga masih melakukan penelusuran untuk mengetahui penyebab kebakaran di kawasan tersebut.
Kawah Ijen Juga Terdampak
Kebakaran juga terjadi di kawasan Cagar Alam dan Taman Wisata Alam (TWA) Kawah Ijen Merapi Ungup-Ungup, Banyuwangi.
Kebakaran mulai terpantau pada 3 September 2026 dan kemudian meluas ke kawasan TWA Kawah Ijen. Upaya pemadaman dilakukan oleh tim gabungan melalui jalur darat dan udara.
Helikopter juga dikerahkan untuk melakukan operasi water bombing guna membantu memadamkan titik api yang sulit dijangkau dari darat.
Kementerian Kehutanan mencatat luas kawasan yang terbakar di wilayah Kawah Ijen mencapai sekitar 1.505 hektare. Kawasan tersebut masih mendapat perhatian karena kondisi kering dan angin dapat meningkatkan risiko munculnya kembali titik api.
Kalimantan Hadapi Peningkatan Titik Panas
Ancaman karhutla juga terjadi di Pulau Kalimantan. Berdasarkan pemantauan pemerintah, sejumlah wilayah di Kalimantan menunjukkan konsentrasi titik panas yang cukup tinggi.
Pada 13 September 2026, BMKG mencatat 627 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi terdeteksi di Kalimantan. Sehari setelahnya, secara nasional terdeteksi 1.437 hotspot high confidence.
Pemerintah kemudian memperkuat penanganan karhutla melalui pemadaman darat dan udara, patroli, pembasahan lahan, serta operasi modifikasi cuaca.
Asap akibat kebakaran di sejumlah wilayah Kalimantan turut menjadi persoalan bagi masyarakat. Selain mengganggu jarak pandang dan aktivitas sehari-hari, kualitas udara yang memburuk juga menjadi perhatian karena dapat berdampak terhadap kesehatan masyarakat.
Panas Mulai Dirasakan Sejak Pagi
Di tengah kondisi tersebut, masyarakat di sejumlah daerah juga merasakan cuaca yang semakin terik. Panas matahari tidak hanya terasa ketika memasuki siang hari, tetapi mulai dirasakan sejak pagi dan masih bertahan hingga sore.
Kondisi ini dapat terjadi ketika tutupan awan relatif sedikit sehingga sinar matahari lebih optimal memanaskan permukaan bumi. Namun, sensasi panas yang dirasakan masyarakat tidak dapat secara langsung menjadi indikator bahwa suatu wilayah mengalami suhu ekstrem.
Untuk menentukan apakah suhu berada pada kategori ekstrem, diperlukan pengukuran berdasarkan data meteorologi di masing-masing wilayah.
Waspada Kebakaran di Tengah Musim Kering
Kondisi atmosfer yang kering membuat kewaspadaan terhadap kebakaran perlu ditingkatkan. Lahan yang kehilangan banyak kandungan air menjadi lebih mudah terbakar, sementara angin dapat membuat api menyebar dengan cepat.
Pemerintah saat ini terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan titik panas dan kebakaran di berbagai daerah. Masyarakat juga diimbau untuk berhati-hati terhadap aktivitas yang dapat memicu munculnya api, terutama di kawasan dengan vegetasi dan lahan yang sedang dalam kondisi kering.
Musim kemarau tahun ini tidak hanya menghadirkan cuaca panas bagi masyarakat, tetapi juga meningkatkan tantangan dalam menjaga kawasan hutan dan lahan dari ancaman kebakaran. Kondisi tersebut membuat pemantauan cuaca, pencegahan kebakaran, serta kesiapsiagaan masyarakat menjadi semakin penting selama periode kering masih berlangsung.
