Berita Positif Surabaya dan Sekitarnya

Primary Navigation

Social Navigation

Membaca Politik Melalui Apa yang Tidak Dikatakan, Ketika Seorang Gubernur BI Mundur

Special Issue

Pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo pada Juli 2026 mungkin pada akhirnya tercatat sebagai peristiwa administratif biasa. Alasan resmi yang disampaikan pemerintah adalah alasan pribadi, dan secara prosedural sistem segera bergerak dengan penunjukan pejabat sementara serta proses pencarian pengganti. Namun dalam politik, ekonomi, dan komunikasi massa, sering kali peristiwa yang paling menarik bukanlah apa yang diumumkan, melainkan apa yang terjadi di sekeliling pengumuman tersebut.

Begitu kabar pengunduran diri muncul, ruang publik langsung dipenuhi berbagai interpretasi. Investor memperhatikan rupiah dan pasar saham. Pengusaha berbicara tentang kepastian kebijakan. Ekonom membahas independensi bank sentral. Media mencari sudut liputan yang paling relevan. Sementara publik mulai mengajukan pertanyaan yang lebih luas daripada alasan pribadi itu sendiri.

Dalam perspektif agenda-setting, situasi ini menarik karena publik tidak memiliki akses langsung terhadap seluruh informasi yang beredar di lingkaran kekuasaan. Yang mereka miliki adalah perhatian. Ketika hampir semua media menempatkan pengunduran diri seorang gubernur bank sentral sebagai berita utama, perhatian kolektif masyarakat berpindah ke sana. Media tidak harus mengatakan bahwa ada sesuatu yang besar sedang terjadi. Cukup dengan terus menjadikan isu tersebut sebagai berita utama, publik mulai berasumsi bahwa isu itu penting.

Namun agenda setting hanya menentukan apa yang dibicarakan. Pertarungan sesungguhnya terjadi pada level framing.

Dalam hitungan jam, satu fakta yang sama mulai memperoleh sejumlah makna yang berbeda. Ada frame resmi yang menempatkan peristiwa itu sebagai keputusan pribadi. Ada frame institusional yang menekankan bahwa Bank Indonesia tetap berjalan karena sistem lebih penting daripada figur. Ada frame pasar yang menyoroti pelemahan rupiah dan kehati-hatian investor. Ada pula frame politik yang mempertanyakan apakah pengunduran diri tersebut merupakan bagian dari perubahan yang lebih besar di dalam konfigurasi kekuasaan nasional.

Di titik ini, teori elite menjadi relevan. Teori elite tidak bertanya mengapa satu orang pergi. Teori elite bertanya siapa yang memperoleh pengaruh setelah orang itu pergi.

Dari sudut pandang ini, politik bukan terutama tentang individu, melainkan tentang jaringan. Presiden, kabinet, DPR, otoritas keuangan, birokrasi, pelaku pasar, kelompok bisnis besar, media, hingga berbagai kelompok kepentingan lainnya membentuk sebuah ekosistem yang saling mempengaruhi. Ketika satu posisi strategis berubah, para pengamat elite biasanya tidak fokus pada sosok yang mundur, melainkan pada arah distribusi pengaruh setelahnya.

Dalam kerangka itu, perhatian kepada Presiden Prabowo menjadi dapat dipahami. Sebagai kepala pemerintahan, publik tentu melihat bagaimana respons presiden terhadap kekosongan jabatan yang sangat strategis tersebut. Pemberitaan mengenai rapat koordinasi dan persiapan transisi otomatis menempatkan pemerintah sebagai aktor utama dalam menjaga stabilitas ekonomi dan politik.

Pada saat yang sama, DPR juga masuk ke dalam arena perhatian. Dalam sistem Indonesia, pengisian posisi penting seperti Gubernur BI tidak dapat dilepaskan dari mekanisme politik dan kelembagaan. Karena itu, bahkan sebelum nama pengganti muncul, publik mulai memperhatikan proses politik yang akan mengikutinya. Dalam bahasa elite theory, jabatan strategis tidak pernah berdiri sendiri; ia selalu berada di persimpangan antara kekuasaan teknokratis dan kekuasaan politik.

Lalu bagaimana dengan istilah yang sering muncul dalam diskusi publik seperti “cukong”, “oligarki”, atau bahkan “mafia”?

Dalam analisis akademik, istilah-istilah tersebut biasanya tidak diperlakukan sebagai kelompok rahasia yang mengendalikan semua hal dari balik layar. Yang lebih sering dibahas adalah keberadaan kelompok ekonomi besar yang memiliki sumber daya, akses informasi, jaringan politik, dan kemampuan memengaruhi arah kebijakan. Teori elite akan mengatakan bahwa kelompok-kelompok semacam ini hampir selalu ada di setiap negara modern. Pertanyaannya bukan apakah mereka ada, melainkan seberapa besar pengaruh mereka terhadap proses pengambilan keputusan.

Menariknya, pengaruh semacam itu sering bekerja melalui apa yang disebut sebagai open secret.

Open secret bukanlah rahasia yang tersembunyi rapat. Justru sebaliknya. Banyak orang mungkin mengetahui keberadaannya, membicarakannya secara informal, bahkan menjadikannya bahan percakapan sehari-hari. Namun hampir tidak pernah ada pengakuan resmi yang eksplisit.

Semua orang mendengar istilah “kelompok bisnis besar”, tetapi jarang ada penjelasan rinci mengenai bagaimana pengaruh itu bekerja.

Semua orang mendengar istilah “mafia”, tetapi definisinya sering kabur.

Semua orang mengira ada kelompok yang dekat dengan pusat kekuasaan, tetapi hubungan tersebut jarang dijelaskan secara terbuka.

Inilah yang membuat open secret sangat menarik. Masalahnya bukan kurangnya informasi. Masalahnya adalah informasi tersebut belum memperoleh status resmi dalam percakapan publik.

Dalam konteks ini, media memainkan peran yang paradoksal. Di satu sisi media berfungsi sebagai penjaga gerbang informasi. Di sisi lain media juga terikat pada standar verifikasi. Akibatnya, sesuatu yang diketahui luas sebagai desas-desus tidak otomatis menjadi berita. Sebuah media profesional memerlukan fakta yang dapat diverifikasi sebelum menjadikannya agenda utama.

Karena itu sering muncul situasi yang aneh: masyarakat merasa “semua orang tahu”, tetapi media tidak menuliskannya secara eksplisit.

Kesenjangan inilah yang kemudian melahirkan ruang spekulasi.

Sebagian mengisinya dengan analisis kelembagaan. Sebagian mengisinya dengan teori elite. Sebagian lagi mengisinya dengan teori konspirasi.

Padahal sering kali realitas lebih membosankan sekaligus lebih rumit daripada teori konspirasi. Bukan satu kelompok yang mengendalikan semuanya, melainkan banyak kelompok yang saling menekan, bernegosiasi, bekerja sama, dan bersaing pada saat yang sama.

Karena itu mungkin pertanyaan yang paling menarik dari kasus pengunduran diri seorang gubernur bank sentral bukanlah siapa yang benar atau salah. Pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana sebuah peristiwa bergerak dari ruang elite menuju ruang publik.

Pada awalnya hanya sedikit orang yang mengetahui detailnya.

Kemudian pemerintah menyampaikan pernyataan resmi.

Media memilih sudut pemberitaan.

Pasar memberikan respons.

DPR mulai diperhatikan.

Kelompok bisnis menghitung risiko.

Publik mulai menyusun penjelasannya sendiri.

Dan di antara semua proses itu, terbentuklah narasi sosial yang jauh lebih besar daripada peristiwa awalnya.

Mungkin di situlah pelajaran terpentingnya: dalam politik modern, kekuasaan tidak hanya ditentukan oleh siapa yang memegang jabatan, tetapi juga oleh siapa yang mampu menentukan apa yang dianggap penting, apa yang boleh dibicarakan, dan apa yang tetap menjadi open secret meskipun seluruh negeri sebenarnya sudah melihat gajah yang berdiri di tengah ruangan.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *