Berita Positif Surabaya dan Sekitarnya

Primary Navigation

Social Navigation

Ospek Kampus Kembali Jadi Sorotan, Tradisi Pelonco Masih Menghantui Mahasiswa Baru?

Education

ahun ajaran baru perguruan tinggi kembali dimulai. Ribuan mahasiswa baru bersiap memasuki dunia kampus dengan harapan mendapatkan pengalaman akademik yang berbeda dari masa sekolah.

Namun di balik euforia penyambutan mahasiswa baru, satu isu lama kembali muncul ke permukaan: tradisi pelonco saat ospek.

Setiap tahun, kegiatan pengenalan kehidupan kampus selalu menjadi perhatian publik. Di satu sisi, ospek dianggap sebagai cara untuk mengenalkan lingkungan akademik, budaya kampus, organisasi mahasiswa, serta membangun hubungan antar mahasiswa.

Namun di sisi lain, masyarakat masih memiliki kekhawatiran terhadap praktik-praktik yang dianggap berlebihan. Mulai dari hukuman fisik, bentakan senior, atribut yang tidak masuk akal, hingga kegiatan yang berpotensi merendahkan mahasiswa baru.

Bagi sebagian mahasiswa, pengalaman ospek menjadi cerita yang sulit dilupakan. Ada yang mengenangnya sebagai momen membangun solidaritas. Tetapi ada juga yang menganggapnya sebagai pengalaman tidak menyenangkan karena merasa berada dalam posisi tertekan.

Fenomena ini kembali memunculkan pertanyaan besar:

Apakah ospek benar-benar menjadi proses adaptasi mahasiswa, atau hanya bentuk baru dari budaya senioritas?

Pemerintah dan kampus sebenarnya sudah lama mengingatkan agar kegiatan pengenalan mahasiswa dilakukan secara positif. Orientasi mahasiswa seharusnya berisi pengenalan sistem akademik, fasilitas kampus, etika mahasiswa, hingga penguatan karakter.

Bukan ajang menunjukkan kekuasaan senior terhadap junior. Di beberapa kampus, konsep ospek mulai berubah. Kegiatan yang sebelumnya identik dengan senioritas perlahan digantikan dengan program mentoring, pengabdian sosial, diskusi akademik, pelatihan kepemimpinan, hingga kegiatan kreatif.

Namun perubahan budaya tidak selalu mudah. Sebab, sebagian kalangan masih mempertahankan anggapan bahwa mahasiswa baru harus “merasakan kerasnya dunia kampus” agar memiliki mental kuat. Sementara pihak lain menilai mental tidak dibangun melalui tekanan atau penghinaan, melainkan melalui tantangan yang mendidik.

Di era media sosial, satu video pendek tentang dugaan tindakan berlebihan dalam ospek dapat langsung menjadi perhatian nasional. Kampus pun kini berada dalam posisi yang lebih sensitif karena masyarakat semakin kritis terhadap cara mahasiswa baru diperlakukan.

Bagi perguruan tinggi, tantangannya jelas: bagaimana menciptakan kegiatan orientasi yang tetap membangun karakter tanpa mengulang budaya lama yang berpotensi merugikan. Karena pada akhirnya, mahasiswa baru datang ke kampus untuk belajar. Bukan untuk membuktikan siapa yang paling kuat bertahan menghadapi senioritas.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *